Bibliophile

[Book Review] Aroma Karsa

Review buku pertama ditahun 2018 ini. Sebagai catatan, buku ini bukan buku pertama yang saya baca ditahun 2018. Tapi baru buku ini yang kepingin saya bikin reviewnya di blog, yang lain saya tulis di jurnal khusus membaca saya aja. Hehehe.

Ok. Aroma Karsa adalah karya terbaru dari Ibu Suri (begitu sebutannya) Dee Lestari. Saya selama ini belum pernah baca karya-karyanya Ibu Suri. Alasannya gara-gara saya pernah coba baca novel beliau yang Partikel atau entah yang mana (pokoknya seri Supernova), baru dua halaman saya langsung keok. Keok karena sebanyak dua halaman itu ngomongnya pakai bahasa-bahasa yang nyerempet bahasa Fisika! FYI, Physics and I are enemy! We are like water and oil or fire and water. We are not meant for each other lah… Udah di sekolah pusing mikirin pelajaran Fisika yang alamak susah banget, masa iya saya mau baca novel yang pakai bahasa ilmiah berbau-bau Fisika? Of course not! Makanya, setelah dua halaman langsung saya kembalikan buku itu ke rak buku perpustakaan. Kalau gak salah, waktu itu saya masih kelas 1-2 SMA. Hahaha.

Gara-gara pengalaman saya baca novel Ibu Suri yang Fisika banget itu, saya jadi skeptis lah sama karya-karyanya Ibu Suri yang lain. Kalau nemu novel baru beliau, saya pasti langsung mikir begini: “Pasti ini susah banget bahasanya! Pasti ono mambu-mambu Fisika ne (pasti ada bau-bau Fisikanya)!”. Hahaha. Gak cuma saya lho yang begitu, ada temen saya yang ternyata punya pengalaman yang sama dengan saya. Bahkan dia masih skeptis sama karya-karya beliau sampai sekarang! Waktu saya kasih tahu tentang Aroma Karsa aja dia udah ngomong begini: “Ah, pasti susah lagi!”

Tapi setelah memberanikan diri untuk membaca Aroma Karsa, saya harus menarik perkataan saya semasa ABG. Novel Ibu Suri (sebatas Aroma Karsa dulu ya) itu gak susah dan amat sangat menarik!

37830526
source: goodreads

“Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia.

Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi.

Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum.

Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa dengannya.

Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu.

Sesuai dengan sinopsisnya, novel ini berpusar di sekitar sebuah bunga yang belum jelas kebenaran dan keberadaannya bernama Puspa Karsa. Keberadaan Puspa Karsa ini sudah menjadi semacam obsesi turun temurun yang diwariskan dari nenek Raras Prayagung, Janirah Prayagung. Janirah Prayagung sebenarnya adalah anak dari sepasang abdi dalem keraton. Sejak kecil Janirah sudah menjelajah sudut-sudut keraton dan mencuri berbagai barang yang menarik perhatiannya dari keraton. Suatu hari, Janirah menemukan sebuah kotak yang berisi lontar dan 3 buah tube perunggu. Lontar itu berisi tentang sebuah cerita tentang Puspa Karsa yang dapat memikat manusia dengan aromanya. Sejak saat itu, Janirah terobsesi dengan Puspa Karsa dan berlanjut ke cucunya, Raras. Raras yang sedari kecil sudah mendengar cerita Puspa Karsa sebagai dongeng pengantar tidur, awalnya hanya mengira Puspa Karsa adalah dongeng semata. Tetapi setelah mendengar pesan terakhir neneknya sebelum meninggal dan membaca sendiri lontar kuno yang ditemukan neneknya, Raras mulai terobsesi untuk menemukannya. Raras bersedia untuk melakukan apapun untuk menemukan bunga yang tak jelas itu. Dia bahkan tak gentar meskipun dia dihadapkan dengan bahaya saat mencari bunga tersebut.

Sungguh, saya pengen ngemplang kepala Raras saat dia bersikukuh untuk melakukan ekspedisi ketika semua orang melarang dan tak mau ikut membantunya. Obsesinya itu lho sampai bikin dia rela mengorbankan nyawa orang lain. Pengen rasanya saya teriakin si Bu Raras Prayagung ini, “Woy! Udah gak usah cari-cari itu kembang! Something are meant to be hidden forever!“. Tapi kalau Raras gak ngotot nyari, gak bakalan jadi ide cerita novel ini. Hahaha. Untungnya, Raras kena batunya juga nanti di akhir cerita. Btw, entah kenapa saya membayangkan Kemara (perusahaan yang dibangun oleh keluarga Prayagung) itu mirip-mirip dengan Sari Ayu. Terus Janirah Prayagung itu adalah Martha Tilaar-nya. Atau mungkin lebih mirip pendiri Mustika Ratu kali yah… Somehow they have the same vibe. Sama-sama Jawa dan pernah hidup di keraton. Hmmm…

Ngomong-ngomong soal akhir cerita, akhir cerita novel ini happy ending sih… Tapi, masih ada sebuah masalah yang cukup pelik nyempil di antara Jati dan Suma. Disaat Jati berpikir kalau masalah Puspa Karsa itu sudah selesai dan menjadi kenangan, ternyata masalah dengan kembang sialan itu belum selesai saudara-saudara! Mengingat masih ada duri dalam daging di akhir cerita, saya berharap Aroma Karsa ini ada kelanjutannya. Jilid dua gitu. Hahahaha. Nanggung lho! Kepengennya masalah Puspa Karsa itu beneran tuntas tas tas…. bukan malah masih nyelip di kehidupan Jati dan Suma kayak cabe nyelip di sela-sela gigi.

Apakah Aroma Karsa banyak bahasa alien (ilmiah)?

Oh, tentu saja! Novel ini topiknya tentang bebauan dan proses pembuatan parfum. Jadi buanyak banget bahasa-bahasa ilmiah tentang bebauan yang digunakan. Indol, Furaneol, Metanol, Etanol, dan segala jenis turunan bahan kimia yang belakangnya -ol. Untungnya saya dulu waktu kuliah lulus yah pelajaran Kimia dasar sampai Kimia pangan, jadi masih familiar dengan nama-nama itu. Hahaha. Selain itu, banyak nama-nama bebauan khas bunga yang cukup asing bagi saya dan nama-nama ilmiah spesies bunga Anggrek. But it’s okay, you can always google them up. Meskipun banyak istilah-istilah kimia dan parfum, novel ini jatuhnya gak berat sama sekali. Tetap mengalir enak dan ringan. Malah saya merasa novel ini menambah pengetahuan saya tentang parfum. Dunia pembuatan parfum itu ternyata seru banget!

Hal yang saya suka dari Aroma Karsa

Saya itu paling suka dengan novel yang bertema fantasi dan ada bau-bau sejarah atau mitologinya. Seperti Percy Jackson dan Harry Potter gitu lah. Tipe-tipe novel yang bikin belajar sejarah/mitologi secara tidak langsung. Aroma Karsa ini bisa dimasukkan dalam kategori tersebut. Melalui Aroma Karsa, saya jadi belajar tentang Gunung Lawu dan mitos-mitosnya. Puspa Karsa dikabarkan berada di sebuah desa gaib yang berada di  jalur tengah Gunung Lawu. Desa yang gak kelihatan oleh mata manusia, kalaupun manusia gak sengaja masuk ke desa itu, manusia akan melihatnya secara beda. Saya sih belum pernah naik Gunung Lawu yah… Tapi banyak cerita beredar dari pendaki-pendaki Gunung Lawu yang pernah gak sengaja masuk ke desa gaib tersebut. Yah, desa yang dimaksud di dalam novel Aroma Karsa ini berbeda siih dari desa gaib yang diceritakan oleh para pendaki itu. Desa yang ada di dalam novel Aroma Karsa itu lebih magical. Seru waktu baca bagian ekspedisi ke Gunung Lawu itu!

Selain saya suka dengan sentuhan sejarah atau mitologi dalam Aroma Karsa, saya kagum banget dengan persiapan yang dilakukan Ibu Suri sebelum menulis Aroma Karsa. Kelihatan banget kalau Dee Lestari melakukan riset yang mendalam tentang proses pembuatan parfum, balap mobil atau F1, dan tentu juga tentang Gunung Lawu. Kalau gak riset mendalam, gak bakalan Ibu Suri tahu tentang parfum proses pembuatan parfum, bahan-bahan parfum dan segala detail tentang bebauan. Saya acungi empat jempol buat Ibu Suri! Gokils lah keniatan risetnya!

Ekspresi saya ketika baca bab-bab terakhir Aroma Karsa

Aroma Karsa ini kan awalnya diterbitkan secara digital sebagai cerita bersambung. Setiap minggu, 1 bab terbit. Untuuung banget saya gak ikutan hype waktu masih terbit secara digital! Bisa-bisa saya gak bisa tidur tiap minggu gara-gara penasaran dengan kelanjutan nasib Jati. Nonton Game of Thrones seminggu sekali aja menyiksa banget. Gimana coba waktu baca bab Aroma Karsa yang lagi seru-serunya eh harus menunggu kelanjutannya seminggu lagi. Gak kuat sayaa! Hahaha. Tapi kalau Aroma Karsa beneran ada kelanjutannya, mungkin saya akan ikutan pre-order tanpa ragu-ragu.

Ngomong-ngomong, sebagai penggemar baru Dee Lestari, apakah saya harus baca seri Supernova? Dengar-dengar yang Intelejensi Embun Pagi agak mengecewakan yah? Tolong kasih saran yah… saya kepingin baca novel Ibu Suri yang lain tapi takut kecewa. Hehehe.

 

Iklan

2 tanggapan untuk “[Book Review] Aroma Karsa

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s